Sebelas Asas Tarekat Naqsyabandiyah Mujaddadiyah Khalidiyah

Penganut Naqsyabandiyah mengenal sebelas asas Thariqah. Delapan dari asas tersebut dirumuskan oleh Syaikh Abdul Khaliq Al-Fajduwani, sedangkan sisanya adalah penambahan oleh Syaikh Bahauddin An-Naqsyabandi.

Asas-asas ini disebutkan dalam banyak risalah, termasuk dalam dua kitab pegangan utama para penganut Khalidiyah, yaitu Jami’ al-Ushul fi al-Auliya’ karya Syaikh Ahmad Dhiyauddin Musthafa al-Kamisykhanawi dan Tanwir al-Qulub karya Syaikh Muhammad Amin al-Kurdi.

Masing-masing asas ini dikenal dengan namanya dalam bahasa Persi (bahasa para Khwajagan dari penganut Naqsyabandiyah India).

Kedelapan asas (asas-asas Syaikh Abdul Khaliq al-Fajduwani) adalah :

1. Hush dar dam : “Sadar sewaktu bernafas”.

Hush berarti pikiran. Dar artinya dalam. Dam artinya nafas.

Suatu latihan konsentrasi dimana seorang salik harus menjaga diri dari kekhilafan dan kealpaan ketika keluar masuknya nafas, supaya hatinya selalu merasakan kehadiran Allah.

Menurut Syaikh Abdul Khaliq al-Fajduwani bahwa misi paling penting bagi salik dalam tarekat ini adalah menjaga nafasnya. Dan salik yang tidak dapat menjaga nafasnya adalah salik yang tersesat atau kehilangan dirinya.

Syaikh Bahauddin an-Naqsyabandi berkata: “Tarekat ini dibangun diatas pondasi nafas. Adalah suatu keharusan bagi setiap penganut tarekat ini untuk menjaga nafasnya, baik dikala menghirup atau menghembuskan nafas, kemudian menjaga nafasnya dalam jangka waktu antara menghirup dan menghembuskan nafas”.

Oleh karena itu, setiap salik haruslah sadar akan Allah setiap kali menarik nafas, menghembuskan nafas, dan ketika berhenti sebentar diantara keduanya. Dengan maksud, agar hatinya selalu hadir bersama Allah. Karena perhatian pada nafas dalam keadaan sadar akan Allah, memberikan kekuatan spiritual (menjadikan hatinya hidup) dan membawa salik lebih dekat bahkan sampai kepada Allah. Sedangkan lupa atau kurang perhatian berarti kematian spiritual dan membawa orang jauh dari Allah.

2. Nadzar bar qadam : “Menjaga langkah”.

Maknanya adalah seorang murid yang sedang menjalani suluk (khalwat), sewaktu berjalan harus menundukkan kepala melihat ke arah kaki dan sewaktu duduk melihat kedua tangannya. Dia tidak boleh memperluas pandangannya ke kiri atau ke kanan. Sebab, memandang sesuatu yang diukir/dilukis atau sesuatu yang berwarna-warni dapat merusak haliyah (keadaan hati)nya dan menghalangi perjalanannya untuk sampai ke tujuan. Karena bagi murid pemula, manakala pandangannya bergantung (terpatri) pada apa-apa yang dilihat, maka hatinya akan sibuk membeda-bedakan apa-apa yang telah dilihat oleh matanya, karena ketidakmampuan dia menjaga hatinya.

3. Safar dar watan : “Melakukan perjalanan di tanah kelahirannya”.

Maknanya adalah pindah (melakukan perubahan) dari sifat-sifat kemanusiaan yang hina (dari ketidak-sempurnaannya sebagai manusia) menuju sifat-sifat malaikat yang utama (kesadaran akan hakikatnya sebagai makhluk yang mulia). Maka wajib bagi setiap murid untuk meneliti dirinya, apakah di dalam hatinya masih tersisa kecintaan kepada makhluk atau tidak. Manakala diketahui ada sesuatu selain Allah dalam hatinya, maka murid tersebut harus berupaya untuk menghilangkannya.

Atau dengan penafsiran lain: Suatu perjalanan fisik, melintasi sekian negeri untuk mencari Guru Mursyid yang sejati. Kepada siapa saja seseorang memasrahkan dirinya dengan sepenuh hati, maka orang itulah yang akan menjadi perantara antara dirinya dengan Allah SWT. (Al-Gumusykhanawi)

4. Khalwat dar anjuman : “Sepi di tengah keramaian”.

Yang dimaksud dengan sepi di tengah keramaian (khalwat fil jalwat) adalah setiap murid atau salik harus selalu menghadirkan hati bersama Al-Haqq (Allah SWT) di setiap keadaan. Baik sepi ataupun ramai, sendiri ataupun di tengah orang banyak. Hatinya ghaib (menghilang) dari makhluk, meskipun jasadnya berada diantara mereka.

Berbagai pengarang memberikan bermacam tafsiran, beberapa dekat pada konsep “innerweltliche askese” dalam sosiologi agama Max Weber. Khalwat bermakna menyepinya seorang pertapa, anjuman dapat berarti perkumpulan tertentu. Beberapa orang mengartikan asas ini sebagai “menyibukan diri dengan terus-menerus berdzikir tanpa memperhatikan hal-hal lainnya bahkan sewaktu berada di tengah keramaian”. Yang lain mengartikan sebagai perintah untuk turut serta secara aktif dalam kehidupan bermasyarakat, sementara pada waktu yang sama hatinya tetap terpaut kepada Allah saja dan selalu wara’.

Keterlibatan banyak kaum Naqsyabandiyah secara aktif dalam politik, dilegitimasikan (dan mungkin dirangsang) dengan mengacu kepada asas ini.

Dalam Tarekat Naqsyabandiyah, ada dua bentuk khalwat :

  1. Khalwat lahir yaitu orang yang melaksanakan suluk dengan mengasingkan diri di tempat yang sunyi dari masyarakat ramai.
  2. Khalwat batin yaitu hati sanubari si murid atau salik senantiasa musyahadah (menyaksikan rahasia-rahasia Kebesaran Allah), walaupun ia berada di tengah-tengah orang ramai.

5. Yad kard : “Ingat”, “Menyebut”.

Maknanya adalah terus-menerus mengulang-ulang dzikir, baik dengan dzikir Ismu Dzat ataupun Nafï Itsbat hingga diperoleh kehadiran hati bersama al-Madzkur.

Oleh sebab itu, bagi penganut Naqsyabandiyah, dzikir itu tidak hanya dilakukan sebatas berjamaah ataupun sendirian sehabis shalat, tetapi harus terus-menerus, agar dalam hati bersemayam kesadaran akan Allah yang permanen.

6. Baz kasyt : “Kembali”, ”Memperbarui”.

Maknanya adalah kembalinya orang yang berdzikir dalam me-nafi-kan (meniadakan) dan meng-itsbat-kan (menetapkan) setelah melepas nafasnya.

Untuk mengendalikan hati supaya tidak condong kepada hal-hal yang menyimpang (melantur), orang yang berdzikir bermunajat lagi kepada Allah dengan mengucapkan kalimat : Ilahi Anta Maqsudi wa-Ridloka Mathlubi(Wahai Tuhanku, Engkau-lah yang aku tuju (dalam perjalanan ruhaniku) dan ridha-Mu-lah yang aku cari) setelah dzikir Nafï Itsbat atau ketika berhenti sebentar diantara dua nafas. Sewaktu berdzikir, makna dari kalimat ini haruslah senantiasa berada di hatinya, untuk mengarahkan perasaannya yang halus kepada Allah SWT.

Karena memperhatikan kalimat tersebut dapat menguatkan dzikir Nafi Itsbat dan mewariskan (mendatangkan) rahasia ketauhidan yang hakiki dalam hati orang yang berdzikir hingga keberadaan seluruh makhluk lebur (fana) dari pandangannya.

7. Nikah dasyt : “Waspada”.

Maknanya adalah setiap murid atau salik harus menjaga hatinya dari masuknya lintasan-lintasan yang mengganggu, walaupun cuma sebentar. Karena lintasan yang mengganggu itu merupakan masalah besar yang tidak boleh terjadi dalam ajaran dasar Tarekat ini.

Menurut Para Pemuka Naqsyabandiyah, menjaga hati merupakan perkara yang berat.

Syaikh Abu Bakar al-Kattani berkata: “Aku menjaga pintu hatiku selama 40 (empat puluh) tahun dan aku tidak pernah membukanya untuk selain Allah hingga hatiku hanya mengenal Allah SWT”.

Syaikh Amin al-Kurdi mengutip perkataan seorang Sufi: “Kujaga hatiku selama 10 (sepuluh) hari, kemudian hatiku menjagaku selama 20 (dua puluh) tahun”.

Oleh karena itu setiap murid harus menjaga pikiran dan perasaannya secara terus-menerus sewaktu melakukan dzikir Nafï Itsbat, agar tidak menyimpang dari kesadaran yang tetap akan Allah SWT, dan sesuai dengan makna kalimat La ilaha illallah.

8. Yad dasyt : “Mengingat kembali”.

Maknanya adalah menghadapkan hati dan memusatkan seluruh perhatian (tawajjuh) pada musyahadah (menyaksikan Keindahan, Kebesaran, Keagungan, dan Kemuliaan Allah SWT.) terhadap cahaya-cahaya Dzat Yang Maha Tunggal (Nur ad-Dzat al-Ahadiyyah) tanpa disertai dengan kata-kata.

Dan keadaan “Yad Dasyt” ini, baru bisa dicapai oleh seorang murid atau salik setelah dia mengalami fana dan baqa yang sempurna.

Penglihatan yang diberkahi: secara langsung menangkap Dzat Allah, berbeda dari sifat-sifat dan nama-nama-Nya. Mengalami bahwa segalanya berasal dari Allah yang Esa dan beraneka ragam ciptaan terus berlanjut ke tak terhingga. Penglihatan ini ternyata hanya mungkin dalam keadaan jadzbah, itulah derajat ruhani tertinggi yang bisa dicapai.

 

Adapun tiga asas tambahan dari Syaikh Bahauddin an-Naqsyabandi adalah:

1. Wuquf Zamani : “Memeriksa penggunaan waktu“

Mengamati secara teratur bagaimana seorang murid menghabiskan waktunya. Syaikh Amin Al-Kurdi menyarankan agar ini dikerjakan setiap dua atau tiga jam. Jika seorang murid atau salik secara terus-menerus sadar dan tenggelam dalam dzikir, serta melakukan perbuatan terpuji, hendaklah berterima kasih kepada Allah. Dan jika tidak ada perhatian atau lupa atau melakukan perbuatan dosa, hendaklah ia meminta ampun kepada-Nya dan kembali mengingat-Nya.

2. Wuquf ‘Adadi (Kesadaran Numerikal) : “Memeriksa hitungan dzikir”

Memelihara bilangan ganjil dalam menyelesaikan dzikir Nafï Itsbat (tanpa pikirannya mengembara kemana-mana), sehingga setiap dzikir Nafï Itsbat tidak diakhiri dengan bilangan genap. Bilangan ganjil itu, bisa tiga kali atau lima kali sampai dua puluh satu kali.

3. Wuquf Qalbi : “Menjaga hati tetap terkontrol”

Maknanya adalah sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Ubaidillah Ahrar, “Wukuf Qalbi adalah keadaan hati seorang murid atau salik yang selalu hadir bersama Allah SWT”. Pikiran yang ada terlebih dahulu dihilangkan dari segala perasaan, kemudian dikumpulkan segenap tenaga dan panca indera untuk melakukan tawajjuh dengan mata hati yang hakiki, untuk menyelami Ma’rifat Tuhannya, sehingga tidak ada peluang sedikitpun dalam hati yang ditujukan kepada selain Allah SWT dan terlepas dari pengertian dzikir. Kehadiran hati merupakan salah satu persyaratan berdzikir yang harus dipenuhi.

Dalam menafsirkan makna wuquf qalbi, Syaikh Ahrar juga pernah berkata: “Wuquf Qalbi adalah keadaan dimana ketika sedang berdzikir, orang yang berdzikir itu berhenti (berdiam diri) pada hatinya, dengan cara menghadapkan diri pada hati dan menjadikan hatinya sibuk dengan lafadz dzikir beserta maknanya serta tidak meninggalkan hatinya dalam keadaan lalai dari berdzikir dan lupa dari makna dzikirnya”.

Salah satu murid Syaikh Ubaidullah al-Ahrar berkata: “al-Khwajah Muhammad Bahauddin tidak menjadikan menahan nafas dan menjaga bilangan sebagai sesuatu yang tetap dalam berdzikir. Adapun mengenai wuquf qalbi, beliau menjadikannya sebagai sesuatu yang penting. Karena target dan maksud dari berdzikir adalah wuquf qalbi”.

Dengan membayangkan hati seseorang (yang didalamnya secara batin dzikir ditempatkan) berada dihadirat Allah, maka hati itu tidak sadar akan yang lain kecuali Allah. Dan dengan demikian perhatian seseorang secara sempurna selaras dengan dzikir dan maknanya. Tajuddin menganjurkan untuk membayangkan gambar hati dengan nama Allah terukir di atasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *