Syaikh Bahauddin, Sang Pendiri Tarekat Naqsyabandiyah (1)

Riwayat Hidup Syaikh Bahauddin An-Naqsyabandi

Tidak banyak informasi yang bisa didapat mengenai kehidupan Syaikh Bahauddin An-Naqsyabandi. Ini tidaklah mengherankan, karena semasa hidupnya, beliau melarang para pengikutnya untuk mencatat segala perilaku maupun ucapan-ucapan beliau. Banyak tulisan yang dirangkai, justru setelah beliau wafat.

Nama lengkap beliau adalah Khwajah Shah Muhammad bin Muhammad bin Muhammad al-Husayni Bahauddin an-Naqsyabandi al-Uwaysi al-Bukhari atau dikenal dengan nama Syaikh Bahauddin an-Naqsyabandi. Shah Naqsyabandi diberi gelar Bahauddin karena berhasil menonjolkan sikap beragama yang lurus, tetapi tidak kering. Kemudian sikap beragama yang benar, tetapi penuh penghayatan yang indah.

Syaikh Bahauddin An-Naqsyabandi adalah samudera ilmu yang tak bertepi. Ombaknya dianyam oleh mutiara ilmu Ilahi. Beliau menjernihkan kemanusiaan dengan samudera kemurnian dan kesalehan. Beliau melepaskan dahaga jiwa dengan air yang berasal dari dukungan spiritualnya. Seisi dunia, termasuk samudera dan benua, berada dalam genggamannya. Beliau adalah bintang yang berhiaskan mahkota petunjuk. Beliau mensucikan seluruh jiwa manusia tanpa terkecuali, dengan nafas sucinya. Cahayanya menembus lapisan ketidak-pedulian. Keluar-biasaannya melahirkan bukti terhempasnya asa tertepis dari keraguan hati kemanusiaan. Keajaibannya yang penuh kekuatan membawa kehidupan kembali ke dalam hati setelah kematiannya dan menyiapkan jiwa-jiwa dengan perbekalan mereka bagi kehidupan spiritual dimasa mendatang. Beliau terpelihara di “Maqam Qaba Qausaini” (Maqam Busur Perantara) tatkala beliau masih dalam buaian. Beliau menghisap nektar ilmu gaib secara terus-menerus dari cangkir ma’rifat (realitas).

Segala puji bagi Allah yang telah mengirimkan seorang mujaddid (yang menghidupkan agama Islam dan menyesuaikan dengan zaman). Beliau mengangkat hati manusia, menyebabkan mereka meng-angkasa ke langit spiritual. Beliau membuat raja-raja berdiri di pintunya. Beliau menyebarkan petunjuknya dari Utara hingga Selatan, dan dari Timur hingga ke Barat. Beliau tidak meninggalkan sseorangpun tanpa dukungan surgawi, termasuk binatang-binatang liar di rimba raya. Beliau adalah ghauts teragung, busur perantara, sultannya para aulia, kalung bagi seluruh mutiara spiritual yang dipersembahkan di alam semesta ini oleh Hadirat Ilahi. Dengan cahaya petunjuknya, Allah SWT membuat yang baik menjadi yang terbaik, dan mengubah yang jahat menjadi baik.

Beliau adalah salah satu guru dari Tarekat Naqsyabandiyah dan syaikh dari mata rantai emas serta merupakan pembawa alur khwajagan yang terbaik. Allah SWT menganugerahkannya kekuatan-kekuatan ajaib di masa kecilnya. Beliau telah diajari rahasia tarekat ini oleh guru pertamanya, Khwajah Muhammad Baba as-Samasi, kemudian beliau diberikan rahasia dan kemampuan dari tarekat ini oleh syaikh-nya, Sayyid Amir Kulal. Beliau juga merupakan uwaysi dalam hubungannya dengan Rasulullah SAW, karena beliau dibesarkan dalam hadirat spiritual Syaikh Abdul Khaliq al-Fajduwani, yang telah mendahuluinya dan tidak pernah ditemuinya di dunia. Hal ini sama dengan Uways al-Qarni, seorang tabi’in yang mendapatkan pelajaran spiritual langsung dari Rasulullah SAW.

 

Kelahiran Syaikh Bahauddin An-Naqsyabandi

Syaikh Bahauddin An-Naqsyabandi dilahirkan pada tanggal 15 Muharram 717 Hijriah bersamaan 1317 Masehi di desa Qashrul Hinduwan (kemudian dikenal dengan nama Qashrul Arifan), beberapa kilometer dari Bukhara Uzbekistan Asia Tengah. Nasabnya bersambung dengan Rasulullah SAW melalui Sayidina al-Husain. Semua keturunan al-Husain di Asia Tengah dan anak Benua India lazim diberi gelar Shah, sedangkan keturunan al-Hasan biasa dikenal dengan gelar Zadah dari kata bahasa arab Saaddah (bentuk plural dari kata Sayyid). Sesuai Sabda Rasulullah tentang Al-Hasan: “Sesungguhnya anakku ini adalah seorang Sayyid.”

Shah Naqsyabandi lahir dari lingkungan keluarga sosial yang baik dan kelahirannya disertai oleh kejadian yang aneh. Pada masa itu, tradisi keagamaan Islam di Asia Tengah berada dalam bimbingan para Guru Besar Sufi yang dikenal sebagai khawajagan (bentuk plural dari khwajah/khajah, dalam bahasa Persia berarti para kiai agung). Dan pembesar mereka adalah Khwajah Baba as-Samasi yang ketika Shah Naqsyabandi lahir, ia melihat cahaya menyemburat dari arah Qashrul Arifan, saat Khwajah Baba as-Samasi mengunjungi desa sebelah. Khwajah Baba as-Samasi lalu memberitahukan bahwa dari desa itu akan lahir seorang bayi yang akan menjadi orang besar, yang mulia dan agung, baik disisi Allah maupun dihadapan sesama manusia. Menurut satu riwayat, jauh sebelum tiba waktu kelahirannya sudah ada tanda-tanda aneh yaitu bau harum semerbak di desa kelahirannya. Bau harum itu tercium ketika rombongan Khwajah Baba as-Samasi, seorang wali besar dari Samas (sekitar 4 kilometer dari Bukhara), bersama pengikutnya melewati desa tersebut, ketika itu Khwajah Baba as-Samasi berkata, “Bau harum yang kita cium sekarang ini datang dari seorang laki-laki yang akan lahir di desa ini.” Sekitar tiga hari sebelum Shah Naqsyabandi lahir, wali besar ini kembali menegaskan bahwa bau harum itu semakin semerbak.

 

Awal mula dari bimbingannya dan bimbingan dari awal mulanya

Tiga hari berselang setelah kelahirannya, kakek Shah Naqsyabandi membawanya berkunjung ke Khwajah Baba as-Samasi dan berkata, “Ini adalah cucuku dan aku hadiahkan cucuku ini kepada tuan!” Begitu melihat hadiah yang diberikan oleh kakek Shah Naqsyabandi berupa anak laki-laki, Khwajah Baba as-Samasi berkata kepada para pengikutnya, “Ini adalah anakku dan menjadi saksilah kalian bahwa aku menerima sepenuhnya. Bayi ini adalah Pemegang Ilmu Spiritual yang telah kuceritakan kepada kalian. Aku lihat di masa depan, dia akan menjadi pemandu bagi seluruh umat manusia. Rahasianya akan menggapai seluruh orang-orang shaleh. Pengetahuan Surgawi yang telah dicurahkan oleh Allah kepadanya akan memasuki setiap rumah di Asia Tengah. Asma “Allah” akan terukir dalam hatinya. Dan tarekat ini akan dinamai dengan ukiran tersebut”.

Khwajah Baba as-Samasi merupakan guru pertama dari Shah Naqsyabandi. Di dalam asuhan, didikan dan gemblengan Khwajah Baba as-Samasi inilah Shah Naqsyabandi mencapai keberhasilan didalam mendekatkan diri kepada Allah. Ia rajin menuntut ilmu dan senang sekali menekuni tasawuf, untuk itu ia tinggal (bermukim) di Samas sampai gurunya wafat.

Dari awal persahabatannya dengan Khwajah Baba as-Samasi, Shah Naqsyabandi melihat anugerah yang tak terhitung didalam dirinya, dan kebutuhan yang amat sangat akan kesucian dan ibadah. Cita-citanya untuk lebih dekat dan wushul kepada Allah tak pernah padam, semakin meningkat dan bertambah kuat.

Shah Naqsyabandi pernah bercerita: “Sewaktu masih muda, setiap malam, aku bangun lebih awal tiga jam sebelum shalat fajar, berwudlu kemudian melaksanakan shalat-shalat sunnah. Pada suatu hari, saat melaksanakan shalat malam di masjid, dalam sujud terakhir sebelum salam, hatiku bergetar dengan getaran yang sangat menyejukkan sampai terasa hadir dihadapan Allah SWT, saat itu aku berdoa, Ya Allah berilah aku kekuatan untuk menerima bala’ dan cobaannya mahabbah (rasa cinta kepada-Mu). Pagi harinya, aku shalat fajar bersama dengan Syaikhku. Ketika beliau keluar, beliau melihat ke arahku dan berkata (seolah-olah beliau bersamaku ketika aku berdoa tadi malam), “Wahai anakku kau harus mengubah cara berdoamu, sebaiknya kau berdoa seperti ini: “Ya Allah anugerahkanlah ridla-Mu pada hamba yang lemah ini dan berilah hamba apa saja yang Engkau ridlai.” Karena Allah tidak ridla jika hamba-Nya terkena bala’. Allah tidak senang hamba-Nya berada dalam kesulitan. Walau dengan kearifan-Nya, mungkin Allah memberikan kesulitan-kesulitan untuk menguji sang hamba, akan tetapi sang hamba tak boleh meminta dalam kesulitan. Dan seandainya Allah memberi cobaan pada seorang hamba, maka Allah juga yang memberi kekuatan pada sang hamba tersebut.” Sejak saat itu aku berdoa sesuai dengan yang diperintahkan oleh Syaikhku, Khwajah Baba as-Samasi.

Setelah kejadian itu, aku semakin sering mengasingkan diri, aku jadi suka berkhalwat, menyepikan hati dari keramaian dan kesibukan duniawi. Suatu hari, saat aku sedang berkhalwat, terbersit keinginan yang cukup kuat untuk bercakap-cakap dengan sahabat-sahabatku, tiba-tiba langit terbuka dan suatu pemandangan yang agung datang padaku. Aku mendengar sebuah suara yang berkata: “Tidakkah cukup bagimu datang ke Hadirat Kami sendirian saja? Dan meninggalkan seluruh makhluk? Sekarang sudah waktunya bagimu untuk berpaling dari segala sesuatu selain Aku (Allah).” Suara itu membuat hatiku langsung bergetar dengan kencangnya, tubuhku menggigil (gemetar), perasaanku tidak menentu, hingga aku berjalan kesana kemari seperti orang bingung. Aku berlari ke sebuah sungai, kemudian aku menceburkan diri ke dalamnya. Aku cuci pakaianku, aku benamkan kepalaku hingga aku merasa cukup tenang. Aku berniat mandi taubat, berwudhu dan mengerjakan shalat sunnah 2 (dua) rakaat. Dalam shalat inilah, aku merasakan kekhusyukan yang luar biasa, seolah-olah aku berkomunikasi langsung dengan Allah SWT. Aku merasa seolah-olah sedang shalat dalam Hadirat-Nya. Segalanya begitu terbuka kedalam hatiku dalam bentuk tanpa sekat (kasyaf). Seluruh semesta lenyap dan aku tak menghiraukan segala hal kecuali berdoa ke Hadirat-Nya.

Saat mengalami jadzab (tarikan Ilahi) yang pertama kali, aku mendengar suara, “Mengapa engkau ingin memasuki thariqah (jalan) ini?” Aku menjawab: “Agar segala yang aku katakan dan aku kehendaki, akan terjadi.” Aku dijawab: “Itu mustahil. Segala yang Kami katakan, dan segala yang Kami kehendaki itulah yang akan terjadi.” Lalu aku berkata: “Aku tak bisa. Aku harus diizinkan untuk berkata dan untuk melakukan segala yang aku suka atau aku tak menginginkan jalan ini.” Lalu aku menerima jawaban, “Tidak bisa. Segala yang Kami kehendaki untuk dikatakan dan apapun yang Kami kehendaki untuk terjadi, pastilah terucapkan dan terjadi.” Lalu aku berkata lagi, “Segala yang aku katakan dan segala yang aku kerjakan itulah yang pasti terjadi.” Kemudian aku ditinggalkan sendirian selama 15 hari hingga aku menderita depresi yang luar biasa. Kemudian aku mendengar sebuah suara, “Wahai Bahauddin, segala yang kau inginkan, akan Kami kabulkan.” Aku amat bergembira, kemudian aku berkata: “Aku ingin diberi sebuah thariqah yang akan memimpin semua orang, dan siapapun yang berjalan di atasnya akan langsung menuju ke Hadirat Ilahi, siapapun yang menjalankan thariqah itu, akan dengan mudah wushul (sampai) ke Hadirat Allah SWT. Kemudian aku melihat suatu pemandangan yang agung dan sebuah suara berkata, “Yang kau minta telah dikabulkan.”

Sebelum Khwajah Baba as-Samasi wafat, beliau mengangkat Shah Naqsyabandi sebagai khalifahnya dan menganugerahinya jubah dan kopiah al-Azizan. Khwajah Baba as-Samasi menyatakan bahwa jalan tasawuf dimulai dengan menjaga kesopanan, tindak-tanduk dan perasaan hati agar tidak lancang kepada Allah, Rasulullah dan Guru Mursyid. Shah Naqsyabandi juga percaya bahwa sebuah jalan spiritual bisa mengantarkan seseorang sampai ke tujuan, kalau dilalui dengan sikap rendah hati dan penuh konsistensi. Karena itu, melaksanakan makna eksplisit dari sebuah perintah, barangkali harus diundurkan (ditunda) demi menjaga kesantunan. Inilah yang dilakukan oleh Shah Naqsyabandi ketika dihentikan oleh lelaki berkuda yang memerintahkan dirinya agar berguru kepada lelaki berkuda tersebut. Dengan tegas tapi sopan, Shah Naqsyabandi menolak seraya mengatakan bahwa dia tahu siapa lelaki berkuda itu. Masalah berguru kepada seorang tokoh adalah masalah jodoh. Meskipun lelaki berkuda itu sangat mumpuni, Shah Naqsyabandi tidak berjodoh dengannya. Sesampainya di kediaman Sayid Amir Kulal, Shah Naqsyabandi langsung ditanya, mengapa ia menolak ajakan lelaki berkuda tadi, yang sebenarnya adalah Nabi Khadir AS? Shah Naqsyabandi menjawab, “Karena hamba diperintahkan untuk berguru kepada tuan!’

Setelah Khwajah Baba as-Samasi wafat, Shah Naqsyabandi pergi ke Samarkand kemudian pulang ke Bukhara, dan menikah disana. Ia tinggal di desa kelahirannya, Qashrul Arifan, yang merupakan pemeliharaan khusus dari Allah untuknya, karena ia menjadi dekat dengan Sayid Amir Kulal dan bisa melayaninya. Ia kemudian belajar ilmu thariqah kepada Sayid Amir Kulal dan banyak mendapatkan rahasia-rahasia thariqah dari Sayid Amir Kulal.

Sayid Amir Kulal pernah berkata: “Khwajah Baba as-Samasi telah berpesan jauh hari sebelumnya padaku bahwa beliau tidak akan senang denganku, bila aku tidak memelihara dan mendidik Bahauddin An-Naqsyabandi meniti suluk sufi sampai ke puncaknya.” Beliau bahkan menegaskan, “Semua ilmu dan pencerahan spiritual yang telah kuberikan padamu menjadi tidak halal bagimu kalau kamu lalai melaksanakan wasiat ini.”

Shah Naqsyabandi mendapat latihan dasar dalam jalur ini dari Sayid Amir Kulal, yang juga merupakan sahabat dekatnya selama bertahun-tahun. Shah Naqsyabandi dididik pertama kali oleh Sayid Amir Kulal dengan suluk selama 10 hari, selanjutnya dzikir Nafi Itsbat dengan sirri. Setelah semuanya dijalankan dengan kesungguhan dan berhasil, kemudian beliau disuruh memantapkannya lagi dengan tambahan pelajaran beberapa ilmu seperti, ilmu fiqih, hadis dan ilmu akhlaq.

Shah Naqsyabandi mendapatkan pelajaran dzikir khafi (tanpa suara) dari Syaikh Abdul Khaliq al-Fajduwani. Beliau mengajarkan dzikir khafi kepada Shah Naqsyabandi melalui pengajaran ruhani. Meskipun Sayid Amir Kulal adalah keturunan spiritual dari Syaikh Abdul Khaliq, tapi Sayid Amir Kulal tidak melakukan dzikir khafi. Beliau mempraktekkan dzikir yang dilakukan dengan bersuara (dzikir jahri). Memang, sejak masa Syaikh Arif ar-Riwikari sampai Sayid Amir Kulal, dzikir atau tawajjuh bersama dilakukan sejara jahri (bersuara), akan tetapi kalau dzikir sendiri secara khafi. Setelah mendapat petunjuk mengenai dzikir khafi (dzikir tanpa suara) tersebut, Shah Naqsyabandi lantas absen dari kelompok tawajjuhan ketika mereka mengadakan dzikir jahri (bersuara). Shah Naqsyabandi tidak pernah ikut bertawajjuh bersama Sayid Amir Kulal yang ketika melakukan dzikir bersama, dilakukan secara jahri. Hal ini menimbulkan prasangka buruk pada murid-murid lain, yang tidak mengerti duduk persoalan. Akan tetapi Sayid Amir Kulal justru bertambah sayang dan cinta kepada Shah Naqsyabandi.

Pada suatu hari, Shah Naqsyabandi dipanggil oleh gurunya, Sayid Amir Kulal. Disitu telah berkumpul murid-murid senior Sayid Amir Kulal dan para khalifah beliau. Kemudian beliau berkata, “Wahai murid-muridku sekalian…….. ketahuilah bahwa bersamaan dengan khidmah (pengabdian) Bahauddin disini, berarti aku telah melaksanakan wasiat guruku, Syaikh Muhammad Baba as-Samasi. Putraku Bahauddin….. engkau telah meneteki susu pendidikanku ini sampai kering (Sayid Amir Kulal memberi isyarat pada susunya), tetapi wadahmu terlalu besar dan persiapanmu sangat kuat, maka dari itu, mulai saat ini, aku mengizinkan kepadamu supaya meninggalkan tempat ini untuk mencari beberapa guru agar kamu menambah beberapa faedah yang perlu dari mereka dan faidl an-nur (keluberan nur Ilahi) yang selaras dengan cita-citamu yang agung itu. Aku hanya bisa memberi ancer-ancer carilah guru dari tanah Tajik dan dari tanah Turki.”

Setelah meminta izin dari Sayid Amir Kulal, selanjutnya Shah Naqsyabandi berguru kepada Syaikh Arifuddin Karoni selama 7 (tujuh) tahun kemudian berguru kepada Maulana Qatsam selama 2 (dua) tahun, terakhir kepada Syaikh Darwisy Khalil dari Turki selama 12 (dua belas) tahun. Syaikh Bahauddin telah melaksanakan titah gurunya (Sayid Amir Kulal) demikian juga fatwa-fatwa dari Syaikh Abdul Khaliq al-Fajduwani untuk memperdalam ilmu syariat sehingga sempurnalah ilmu yang beliau peroleh.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *