Syaikh Bahauddin, Sang Pendiri Tarekat Naqsyabandiyah (2)

Kemajuan dan Perjuangannya dalam Tarekat.

Shah Naqsyabandi menyatakan, “Suatu saat aku mengalami ekstase dan tanpa sadar berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lain, aku tak menyadari apa yang tengah kulakukan hingga kakiku robek dan berdarah terkena duri. Aku merasa diriku ditarik ke rumah Syaikhku, Sayid Amir Kulal. Saat itu malam sungguh gelap tanpa bulan dan bintang. Udara amat dingin dan aku tak memiliki apapun kecuali jubah kulit yang sudah usang. Ketika aku tiba di rumahnya, aku menemukan beliau sedang duduk bersama sahabat-sahabatnya. Ketika beliau melihatku, beliau berkata kepada para pengikutnya, “Bawa dia keluar! Aku tak menginginkan dia berada di rumahku.” Mereka lalu mengeluarkan aku dan aku merasakan egoku berusaha menguasaiku, mencoba meracuni kepercayaanku pada Syaikh-ku. Pada saat itu, hanya Perlindungan Allah dan Rahmat-Nya-lah satu-satunya pendukungku dalam menerima penghinaan ini. Lalu aku berkata pada egoku, “Demi Allah dan demi Syaikhku, aku tak memperkenankanmu untuk meracuni kepercayaanku kepada Syaikhku. Aku begitu lelah dan tertekan sehingga aku merendahkan diri di depan pintu kesombongan, meletakkan kepalaku di bawah pintu rumah Syaikhku dan bersumpah dengan Nama Allah bahwa aku tak akan pindah sampai beliau menerimaku kembali.

Salju mulai turun dan udara yang begitu dingin menembus tulangku, membuatku gemetar dalam galapnya malam. Bahkan cahaya rembulanpun tak ada untuk sedikit membuatku merasa nyaman. Aku ingat keadaan tersebut hingga aku membeku. Namun cinta akan pintu Ilahi Syaikhku yang ada dalam hatiku, membuatku tetap hangat. Subuhpun datang dan Syaikhku keluar dari pintu tanpa melihatku secara fisik. Beliau menginjak kepalaku yang masih berada di bawah pintunya. Merasakan adanya kepalaku, dengan segera beliau menarik kakinya, membawaku ke dalam rumahnya dan berkata kepadaku, “Wahai anakku, kau telah dihiasi dengan pakaian kebahagiaan. Kau telah dihiasi dengan pakaian cinta Ilahi. Kau telah dihiasi dengan pakaian yang tidak pernah aku dan Syaikhku kenakan. Allah senang denganmu, Rasulullah pun senang denganmu, semua Syaikh dari mata rantai emas senang denganmu.” Kemudian dengan telaten dan sangat hati-hati, beliau mencabuti duri-duri dari kakiku dan membasuh lukaku. Pada saat yang sama, beliau menuangkan ilmu pada hatiku yang tak pernah aku alami sebelumnya. Hal ini membukakan suatu pandangan dimana aku melihat diriku memasuki rahasia Muhammad Rasulullah SAW. Aku melihat diriku memasuki rahasia ayat yang merupakan Hakikat Muhammadiyah (realitas Muhammad). Hal ini mengantarkan aku untuk memasuki rahasia dari kalimat “La ilaha illallah” yang merupakan rahasia dari Wahdaniyah (keunikan Allah). Hal ini lalu mengantar aku untuk memasuki rahasia Asma Allah dan atributnya yang dinyatakan dengan rahasia Ahadiyah (ke-Esa-an Allah). Keadaan-keadaan tersebut tak dapat dilukiskan dengan kata-kata, hanya dapat diketahui lewat rasa di dalam hati.

Di awal perjalananku di tarekat ini, aku biasa berkeliaran di malam hari dari satu tempat ke tempat lainnya di pinggiran kota Bukhara. Sendirian di gelapnya malam, khususnya di musim dingin, aku mengunjungi pemakaman-pemakaman, untuk memetik pelajaran dari yang telah meninggal dunia. Hingga pada suatu malam saat berziarah ke makam Syaikh Muhammad Wasi’, aku melihat lampunya kurang terang, padahal minyaknya masih banyak dan sumbunya juga masih panjang. Tak lama kemudian ada isyarat untuk pindah berziarah ke makam Syaikh Ahmad al-Ahfar (al-Ajgharawa) Buli, disini lampunya juga sama seperti tadi. Di makam Syaikh Ahmad al-Ahfar (al-Ajgharawa) Buli, aku bertemu dengan dua orang yang belum pernah kutemui sebelumnya. Mereka menunggang seekor kuda dan menyuruhku untuk naik ke atas kuda, kemudian mereka mengikatkan dua bilah pedang di sabukku. Mereka mengarahkan kudanya ke makam Syaikh Mazdakhin. Ketika kami tiba, kami semua turun dan memasuki makam dan masjid Syaikh tersebut. disini lampunya juga sama seperti tadi, sampai tak terasa hatiku berkata, “isyarat apakah ini?” Kemudian aku duduk menghadap kiblat sambil bertawajjuh dan menghubungkan hatiku dengan hati Syaikh itu. Selama proses meditasi tersebut, tahu-tahu sekat pembatas antara dunia nyata dan alam barzakh terbuka di hadapanku, sebuah pandangan terbuka padaku dan aku melihat dinding (pagar tembok) yang menghadap kiblat tiba-tiba runtuh (terkuak secara perlahan-lahan). Sebuah singgasana raksasa muncul. Seseorang yang tinggi besar dan tak dapat dilukiskan dengan kata-kata, sedang duduk di singgasana itu. Ia sangat berwibawa, dari wajahnya terpancar Nur yang berkilauan. Aku merasa mengenalnya. Kemanapun aku palingkan wajahku di semesta ini, yang kulihat adalah orang itu. Disamping kanan dan kirinya, terdapat beberapa jamaah termasuk guruku yang telah wafat yaitu Syaikh Muhammad Baba as-Samasi. Kemudian aku merasa takut dengan orang yang tinggi besar itu sementara pada saat yang bersamaan, aku juga merasakan cinta kepadanya. Aku memiliki ketakutan akan kehadirannya yang makin membesar dan cinta kasih akan keindahan dan wibawanya. Aku berkata pada diriku sendiri, “Siapa gerangan manusia agung ini?” Lalu aku mendengar sebuah suara diantara orang-orang di kerumunan itu berkata, “Orang agung nan mulia ini adalah orang yang membesarkanmu di jalan spiritual. Dia adalah syaikhmu. Dia melihat jiwamu manakala masih berupa atom di Hadirat Ilahi. Kau telah berada dalam pelatihannya selama ini. Dialah Syaikh Abdul Khaliq al-Fajduwani. Dan kerumunan yang sedang kau lihat itu adalah para khalifahnya, yang membawa rahasia agung mata rantai emas tarekat agung ini. Kemudian syaikh tersebut mulai menunjuk kepada masing-masing syaikh seraya berkata, “Yang ini, Syaikh Ahmad Shodiq, Syaikh al-Auliya al-Kabir, Syaikh Mahmud al-Anjir, ini Syaikh Arif Riwakri, ini Syaikh Ali Romitani, dan yang ini syaikhmu, Muhammad Baba as-Samasi yang semasa hidupnya memberikan jubahnya untukmu. Apakah kau mengenalnya?” Ya, kataku. Kemudian beliau berkata kepadaku, “Jubah yang dia berikan kepadamu beberapa saat silam itu, sekarang masih ada di rumahmu dan dengan berkah Allah telah menyembuhkan banyak penderitaan dalam hidupmu. Lalu suara lain datang dan berkata, “Syaikh yang berada di singgasana itu akan mengajarimu sesuatu yang engkau perlukan selama berjalan lewat jalan ini.” Aku bertanya, “Apakah mereka akan mengijinkan aku untuk bersalaman dengannya?” Mereka mengijinkannya. Dan beliau membuka hijab (sekat)nya dan akupun mencium tangan beliau. Kemudian beliau mulai menceritakan tentang suluk (perjalanan) awal, pertengahan dan akhir.

Kemudian Syaikh Abdul Khaliq al-Fajduwani memberikan penjelasan mengenai hal-hal yang dialami oleh Syaikh Bahauddin, “Sesungguhnya lampu yang kamu lihat tadi merupakan perlambang bahwa keadaanmu itu sebetulnya terlihat kuat untuk menerima thariqah ini, akan tetapi masih membutuhkan dan harus menambah kesungguhan sehingga betul-betul siap. Kau harus membenahi sumbu yang ada dalam dirimu sehingga cahaya dari yang tak terlihat dapat dikuatkan dalam dirimu dan rahasia-rahasianya dapat terlihat. Untuk itu kamu harus betul-betul menjalankan 3 perkara berikut ini:

  1. Istiqamah mengukuhkan syari’at.
  2. Beramar ma’ruf nahi mungkar.
  3. Menetapi azimah (tetap pada standar tertinggi dari syariat dalam arti, menjalankan agama dengan penuh kesungguhan dan kemantapan tanpa memilih yang ringan-ringan apalagi yang bid’ah dan berpedoman pada perilaku Rasullullah SAW dan para sahabat).

 

Begitu Syaikh Abdul Khaliq selesai, khalifahnya berkata kepadaku, “Agar yakin akan kebenaran pandanganku ini, beliau mengirimkan satu tanda bagimu. Besok pagi, pergi dan kunjungilah Maulana Syamsuddin al-Ambikuti, yang akan menghakimi dua orang. Katakan padanya bahwa si Turkilah yang benar dan si Saqqalah yang salah. Katakan padanya, kau mencoba membantu si Saqqa, namun kau salah. Perbaikilah dirimu dan bantulah si Turki. Bila si Saqqa menyangkal apa yang kau katakan dan si hakim terus membela si Saqqa, katakan padanya, aku memiliki dua bukti; yang pertama harus bilang pada si Saqqa, wahai Saqqa engkau sedang dahaga. Dia akan mengerti apa arti dahaga itu. Sebagai bukti kedua, kau harus bilang kepada si Saqqa, kau telah meniduri seorang wanita dan dia menjadi hamil dan kau telah memiliki bayi yang telah digugurkan. Dan kau kuburkan bayi itu di bawah pohon pinus.

Dalam perjalananmu menuju Maulana Syamsuddin, bawalah tiga butir kismis dan mampirlah ke syaikhmu, Sayid Amir Kulal. Dalam perjalananmu menuju beliau, kau akan bertemu dengan seorang syaikh yang akan memberimu sebantal roti. Ambillah rotinya dan jangan bicara sepatah katapun dengan syaikh tersebut. Lanjutkan hingga kau menemukan sebuah karavan. Seorang petarung akan mendekatimu, nasehati dan dekati dia kembali, dia akan menyesal dan akan menjadi salah seorang pengikutmu. Kenakanlah kopiahmu dan bawalah jubah Azizan kepada Sayid Amir Kulal, letakkanlah jubah dan kopiah tersebut di hadapan beliau dan kamu tidak perlu berkata apa-apa nanti beliau sudah tahu sendiri.”

Setelah itu mereka memindahkan aku dan pandangan itupun berakhir. Aku kembali pada diriku sendiri. Hari berikutnya, aku pulang ke rumahku dan bertanya kepada keluargaku tentang jubah yang telah disebutkan dalam pandangan itu. Mereka membawanya ke hadapanku dan berkata, “Jubah ini telah ada disana sejak lama sekali.” Ketika aku melihat jubah itu, keharuan yang mendalam melandaku. Aku mengambil jubah itu dan pergi ke desa Ambikata di pinggiran Bukhara, menuju masjid Maulana Syamsuddin. Aku shalat Fajar bersamanya, kemudian aku menyampaikan tanda yang sangat membuatnya terkejut. Si Saqqa ada disana dan dia menyangkal ucapanku bahwa si Turkilah yang benar. Lalu aku menyampaikan bukti-bukti itu kepada beliau. Dia menerima yang pertama namun menyangkal yang kedua. Lalu aku mengajak orang-orang yang berada di masjid itu untuk pergi ke pohon pinus yang ada di dekat masjid. Mereka menurut dan menemukan seorang anak yang terkubur disana. Si Saqqa lalu datang dan menangis serta memohon maaf atas apa yang telah dia perbuat, namun semuanya telah berakhir. Maulana Syamsuddin dan orang-orang yang berada di masjid itu benar-benar terkejut.

Aku bersiap utuk melakukan perjalanan keesokan harinya ke kota Nasyaf dan telah memegang tiga kismis kering, Maulana Syamsuddin mencoba menahanku dengan berkata, “Aku melihat dalam dirimu ada penyakit karena merindukan kami dan hasrat yang membara untuk menggapai Ilahi. Penyembuhmu berada di tangan kami.” Aku menjawabnya, “Wahai syaikh, aku adalah anak dari orang lain dan aku adalah pengikutnya. Bahkan bila kau tawarkan untuk merawatku dengan susu dari maqam yang lebih tinggi, aku tak dapat menerimanya, kecuali dari seseorang yang kepadanya aku berikan hidupku dan dari padanya aku mengambil bai’at.” Kemudian beliau terdiam dan mengizinkan aku untuk melanjutkan perjalanan. Aku bergerak seperti yang telah diperintahkan hingga aku bertemu dengan syaikh itu dan dia memberiku sebantal roti. Aku tidak bicara dengannya. Aku mengambil rotinya seperti yang telah diperintahkan. Kemudian aku menemukan sebuah karavan. Mereka bertanya, “Dari mana aku berasal?” Ambikata, jawabku. Mereka bertanya lagi, “Kapan aku berangkat?” aku bilang, “Pada saat matahari terbit.” Mereka terkejut dan berkata, “Desa itu bermil-mil jauhnya dan akan membutuhkan waktu yang sangat lama untuk menempuh jarak itu. Kami meninggalkan desa itu tadi malam dan kau di saat matahari terbit, namun kau telah menyusul kami.” Aku melanjutkan perjalanan hingga aku bertemu dengan seorang tukang kuda dia menyapaku, “Siapa kau? Aku takut kepadamu!” Aku bilang, “di tanganku-lah kau akan bertobat.” Dia lalu turun dari kudanya, menunjukkan seluruh kerendahannya di hadapanku dan bertobat. Dan melemparkan seluruh botol anggur yang telah dibawanya. Dia menemaniku menemui syaikhku, Sayid Amir Kulal.

Setelah bertemu dengan Sayid Amir Kulal, aku menyerahkan jubah dan kopiah Azizan kepadanya, beliau terdiam untuk beberapa saat, kemudian beliau berkata, “Ini adalah jubah Azizan, aku diberitahu tadi malam bahwa kau akan membawanya kepadaku dan aku diperintahkan untuk menyimpannya dalam sepuluh lapisan penutup.” Lalu beliau menyuruhku untuk memasuki ruangan pribadinya. Beliau mengajariku dan menempatkan dzikir khafi di dalam hatiku. Beliau memerintahkan aku untuk memelihara dzikir itu siang dan malam. Sebagaimana yang telah diperintahkan oleh Syaikh Abdul Khaliq Al-Fajduwani dalam pandangan itu untuk berketetapan pada cara yang sulit, maka aku memelihara dzikir khafi yang merupakan bentuk dzikir terpilih. Sebagai tambahan, aku menghadiri kumpulan murid-murid luar untuk belajar ilmu syariat dan al-Hadis dan belajar mengenai sifat-sifat Rasulullah dan para sahabatnya. Aku melakukannya karena pandangan itu menyuruhku demikian dan hal ini menyebabkan perubahan besar dalam kehidupanku. Semua yang diajarkan syaikh Abdul Khaliq Al-Fajduwani dalam pandangan itu melahirkan buah yang diberkahi dalam kehidupanku. Ruhaninya selalu menemani dan mengajariku.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *