Syaikh Bahauddin, Sang Pendiri Tarekat Naqsyabandiyah (3)

Mengembalikan Esensi Tasawuf

Shah Naqsyabandi muncul untuk merevitalisasi perilaku beragama dengan mengajak kembali kepada tradisi yang hidup pada zaman Nabi SAW. Bagi Shah Naqsyabandi, hakikat sebuah tarekat adalah penerapan ajaran syariat dalam wujud yang paling sempurna dan konsisten. Sementara itu, hakikat adalah terealisasikannya “maqam kehambaan” seorang anak manusia di hadapan Allah SWT.

Shah Naqsyabandi menyatakan bahwa tasawuf adalah inti agama, dan inti terdalam dari tasawuf itu sendiri adalah muraqabah, musyahadah, dan muhasabah.

Muraqabah adalah melupakan segala sesuatu yang selain Allah, dengan hanya memfokuskan hati dan perbuatan hanya kepada Allah.

Musyahadah adalah menyaksikan keagungan dan keindahan Allah dalam seluruh eksistensi.

Sementara itu muhasabah adalah introspeksi diri yang terus-menerus agar tidak lalai dari jalan yang mulia ini.

Dengan ketiga inti tasawuf itu, hati seorang salik akan terus hidup dan dihidupkan oleh dzikrullah serta kebersamaan dengan Allah dalam setiap detak jantung dan hembusan nafasnya sampai dia tidur sekalipun.

Agar bisa mencapai maqam tersebut, seorang salik harus menjalani pelatihan (riyadlah) dibawah bimbingan seorang Maha Guru Spiritual. Dialah yang akan mengajarkan prosesi berdzikir dalam hati, sebagaimana Firman Allah dalam Surat Al-A’raf ayat 205: “Dan sebutlah nama Tuhanmu di dalam hatimu dengan penuh kesungguhan dan rasa takut (akan tidak diterima amal perbuatanmu), tanpa bersuara pada pagi dan sore hari. Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lengah”.

Shah Naqsyabandi pernah menyatakan, bahwa shalat adalah titian spiritual yang paling efektif bagi seorang muslim asalkan shalatnya khusyu’. Untuk mewujudkannya, setiap muslim haruslah mengkonsumsi makanan-makanan yang halal dan tidak pernah lalai berdzikir kepada Allah. Ia harus selalu merasakan kebersamaan dengan Allah kapanpun dan dimanapun, khususnya saat berwudhu dan takbiratul ihram.

Disisi lain, tasawuf bagi Shah Naqsyabandi adalah sebuah perilaku sosial yang positif. Bukan sekedar berbudi pekerti luhur, tapi juga berbuat kebajikan kepada sesama makhluk Allah. Seorang salik tidak boleh menganggap dirinya lebih mulia dibandingkan dengan seekor anjing sekalipun. Dia juga harus selalu siap untuk mengulurkan tangan kepada siapapun yang membutuhkan bantuannya. Bahkan bantuan tersebut bukan hanya diberikan dalam bentuk materi saja, tapi juga dalam bentuk ruhani dan spiritual.

Selain itu, bertasawuf juga berarti menghormati waktu. Shah Naqsyabandi pernah menegaskan dalam bahasa Persia, “Orang yang berakal sempurna, pasti tidak suka berkawan dengan seseorang yang suka menunda-nunda pekerjaan, jika mampu dilakukan hari ini. Waktu harus digunakan untuk ibadah, dalam pengertiannya yang paling komprehensif: berbuat kebajikan, baik yang ritual maupun yang sosial. Dan tidak boleh ada waktu yang berlalu sedetikpun tanpa yakin bahwa kita selalu “mengingat” dan “bersama” Allah.

Dengan demikian, bertasawuf bagi Shah Naqsyabandi adalah mewujudkan ketundukan penuh kepada Nabi Muhammad SAW secara paripurna: menjalankan perintahnya, menjauhi larangannya, meneladani perbuatannya, dan menghayati spiritualitasnya, sesuai dengan ajaran Islam menurut Ahlus Sunnah Wal Jamaah.

Tidak heran kalau banyak ulama yang berpendapat bahwa Tarekat Naqsyabandiyah adalah saripati semua tarekat kaum sufi.

Dan barangsiapa yang suluknya tidak sesuai dengan ajaran Shah Naqsyabandi, berarti sudah keluar dari jalur yang benar, meskipun mengaku sebagai pengikut beliau.

Shah Naqsyabandi pernah menegaskan, “Tasawuf adalah syariat. Dan barangsiapa mengaku sebagai pengikut tasawuf, tetapi tidak menerapkan syariat, berarti dia telah tersesat.”

Jadi, Tarekat Naqsyabandiyah itu jalur ke atas dari Syaikh Muhammad Abdul Khaliq al-Fajduwani, ke atasnya lagi dari Syaikh Yusuf al-Hamadani, seorang wali quthub masyhur sebelum Syaikh Abdul Qadir al-Jilani. Syaikh Yusuf al-Hamadani kalau berkata “mati” kepada seseorang, maka orang tersebut akan mati seketika, berkata “hidup” maka langsung hidup seketika, lalu ke atasnya lagi Syaikh Abu Yazid Thaifur al-Busthami sampai Khalifah Abu Bakar as-Shiddiq.

Adapun dzikir khafi (sirri) itu asalnya dari Syaikh Abdul Khaliq al-Fajduwani yang mengaji tafsir di hadapan Syaikh Sodruddin. Pada saat sampai ayat berdoalah kepada Tuhanmu dengan cara tadharru’ dan menyamarkan diri, lalu beliau berkata, “bagaimana hakikatnya dzikir khafi atau dzikir sirri dan kaifiyahnya itu?” Jawab sang guru, “Oh… itu ilmu laduni dan insya Allah kamu akan diajari dzikir khafi.” Akhirnya yang memberi pelajaran langsung kepada Syaikh Abdul Khaliq adalah Nabi Khadir AS.

Pernah pada suatu hari, Syaikh Muhammad Bahauddin An-Naqsyabandi bersama salah seorang sahabat karibnya, yang bernama Muhammad Zahid pergi ke padang pasir dengan membawa cangkul, kemudian ada hal yang mengharuskannya untuk membuang cangkul tersebut. Lalu mereka berbicara tentang ma’rifat, sampai pada pembicaraan tentang ubudiyah. “Lha.. kalau sekarang pembicaraan kita sampai begini, kan berarti sudah sampai derajat yang kalau mengatakan kepada teman matilah, maka akan mati seketika”. Lalu tanpa sengaja, Syaikh Bahauddin berkata kepada Muhammad Zahid, “matilah kamu!” seketika itu Muhammad Zahid mati dari pagi samapi waktu dzuhur. Melihat hal tersebut, Syaikh Bahauddin menjadi kebingungan apalagi melihat mayat temannya yang telah berubah, karena terkena panasnya matahari. Tiba-tiba ada ilham, “Hai Muhammad, berkatalah ‘ahyi’ (hiduplah kamu).” Kemudian Syaikh Bahauddin berkata ‘ahyi’ sebanyak 3 kali. Saat itulah terlihat mayat Muhammad Zahid bergerak sedikit demi sedikit hingga kembali seperti semula. Ini adalah pengalaman pertama Syaikh Bahauddin dan yang menunjukkan bahwa beliau adalah seorang wali yang sangat mustajab doanya.

Syaikh Tajuddin, salah satu murid Syaikh Bahauddin berkata, “Ketika aku disuruh guruku dari Qashrul Arifan menuju Bukhara, yang jaraknya sekitar satu pos, aku jalankan dengan sangat cepat karena aku berjalan sambil terbang di udara. Suatu ketika, saat aku terbang ke Bukhara, dalam perjalanan terbang tersebut aku bertemu dengan guruku, semenjak itu kekuatanku untuk terbang dicabut oleh guruku dan seketika itu aku tidak bisa terbang lagi sampai saat ini.”

Afif ad-Dikaroniy berkata: “Pada suatu hari aku berziarah ke makam Syaikh Bahauddin an-Naqsyabandi, lalu aku melihat ada orang yang menjelek-jelekkan beliau, aku peringatkan ‘kamu jangan berkata jelek terhadap Syaikh Bahauddin dan jangan kurang tata kramanya kepada Kekasih Allah’. Dia tidak mau tunduk dengan peringatanku, seketika itu ada serangga datang dan menyengat dia terus-menerus. Dia meratap kesakitan, lalu dia meminta maaf kepada Syaikh Bahauddin dan bertobat kemudian sembuh seketika.”

 

Tausiyah dan Pesan-Pesan Beliau

Syaikh Bahauddin An-Naqsyabandi membangun tarekatnya berdasarkan pengamalan Al-Qur’an dan pengajaran Sunnah Nabi. Ketika orang-orang bertanya kepada beliau, “Apa persyaratan bagi yang ingin mengikuti tarekat anda?” Beliau menjawab: “Mengikuti Sunnah Rasulullah SAW.” Beliau lalu melanjutkan, “Tarekat kami adalah sesuatu yang langka, yang menjaga al-‘urwat al-wutsqa, ikatan yang tak terputuskan, dan tak meminta apapun dari pengikutnya, melainkan untuk selalu memegang teguh Sunnah yang murni dari Rasulullah SAW dan mengikuti jalan para Sahabat Nabi dalam ijtihad mereka.”

Menurut Syaikh Bahauddin Naqsyabandi, “Pencari Tuhan akan bisa mencapai pengetahuan ma’rifat melalui tiga cara:

  1. Muraqabah (kontemplasi).
  2. Musyahadah (penyaksian, visi) dan
  3. Muhasabah (menghisab diri sendiri).

 

Shah Naqsyabandi berkata: “Salah satu pintu yang paling penting menuju ke Hadirat Allah adalah makan-minum dengan “kesadaran”. Makanan memberikan kekuatan bagi tubuh, dan makan dengan kesadaran memberikan kesucian bagi tubuh.”

Suatu saat beliau diundang ke sebuah kota bernama Ghaziat dimana salah seorang muridnya telah menyiapkan makanan baginya. Ketika mereka duduk untuk makan, beliau tidak menyentuh makanannya. Tuan rumah menjadi terkejut. Shah Naqsyabandi berkata, “Wahai anakku, Aku ingin tahu bagaimana engkau menyiapkan makanan ini, sejak engkau membuat adonan dan memasaknya sampai engkau menyajikannya, engkau berada dalam keadaan marah. Makanan ini bercampur dengan kemarahan itu. Jika kita memakan makanan itu, syetan akan menemukan jalan untuk masuk melaluinya dan menyebarkan sifat-sifat buruknya ke seluruh tubuh kita.”

Di waktu yang lain beliau diundang ke kota Herat oleh Raja Hussain. Raja Hussain sangat senang dengan kunjungan Shah Naqsyabandi dan memberikan pesta besar baginya. Raja mengundang semua menterinya, syaikh-syaikh dari kerajaannya dan seluruh tokoh terhormat. Raja Hussain berkata, “Makanlah makanan ini. Ini adalah makanan yang murni, yang dibuat dari uang yang halal yang kudapat dari warisan ayahku.” Semua orang makan kecuali Shah Naqsyabandi, hal ini mendorong Syaikh al-Islam pada saat itu, Qutb ad-Din, untuk bertanya,”Wahai Syaikh kami, mengapa engkau tidak makan?” Shah Naqsyabandi berkata, “Aku mempunyai seorang hakim tempat aku berkonsultasi. Aku bertanya kepadanya dan hakim itu berkata kepadaku. “Wahai anakku, mengenai makanan ini terdapat dua kemungkinan. Jika makanan ini tidak halal dan engkau tidak makan, maka bila engkau ditanya engkau dapat menjawab: “Aku datang ke meja seorang raja, tetapi aku tidak makan.” Engkau akan selamat karena engkau tidak makan. Tetapi bila engkau makan kemudian engkau ditanya, maka apa yang akan kau katakan? Maka engkau tidak akan selamat.” Pada saat itu, Qutb ad-Din begitu terkesan dengan kata-kata ini dan tubuhnya mulai bergetar. Beliau harus meminta izin kepada raja untuk menghentikan makannya. Raja sangat heran dan bertanya, “Apa yang harus kita lakukan dengan semua makanan ini?” Shah Naqsyabandi berkata, “Jika ada keraguan mengenai kesucian makanan ini, lebih baik berikan kepada fakir miskin. Kebutuhan mereka akan makanan, membuatnya halal bagi mereka. Jika seperti yang engkau katakan, “makanan ini halal”, maka akan lebih banyak lagi berkah dalam pemberian makanan ini sebagai sedekah kepada mereka yang membutuhkan daripada menjamu orang-orang yang tidak benar-benar membutuhkannya.”

Karena kebesaran namanya, tarekat yang dipimpinnya tersebar dengan cepat dan termasyhur serta memiliki pengikut yang sangat banyak dan tersebar ke seluruh dunia. Beliau meletakkan dasar-dasar dzikir qalbi yang sirri, dzikir bathin qalbi yang tidak berbunyi dan tidak bergerak, dan beliau meletakkan kemurnian ibadah semata-mata karena Allah, tergambar dalam doa beliau yang diajarkan kepada murid-muridnya yaitu “Ilahi Anta Maqshudi wa Ridlaka Mathlubi”. Secara murni meneruskan thariqah as-Sirriyah zaman Rasulullah, thariqah al-Ubudiyah zaman Abu Bakar as-Shiddiq dan thariqah as-Siddiqiyah zaman Salman al-Farisi. Beliau amat masyhur dengan keramat-keramatnya dan makmur dengan kekayaannya, lagi terkenal sebagai wali akbar dan wali qutub yang afdhol yang amat tinggi hakikat dan ma’rifatnya. Beliau juga menjadi penasehat utama sultan Khalil di Samarkand, fatwa-fatwanya menjadi rujukan hakim-hakim agung dalam memutuskan perkara.

 

Wafatnya Shah Naqsyabandi

Menjelang akhir masa hidupnya, Syaikh Bahauddin lebih sering mengurung diri di kamar. Banyak orang yang datang mengunjungi beliau. Semakin banyak orang yang berkunjung, ketika sakitnya makin parah. Saat ajal menjelang, beliau memerintahkan agar dibacakan Surat Yasin. Selesai dibacakan Surat Yasin, beliau mengangkat tangan sambil mengucap dua kalimat syahadat dan lantas wafat.

Syaikh Bahauddin wafat pada hari Senin malam tanggal 3 Rabiul Awal tahun 791 H / 1388 M dalam usia 74 tahun. Beliau dimakamkan di halaman rumahnya (taman miliknya) di desa Qashrul Arifan sebagaimana permintaan beliau. Para pengikut beliau membangun qubah yang besar, karena tak pernah sepinya makam tersebut dari para peziarah. Penerus Raja Bukhara menjaga madrasah dan masjidnya, memperluas dan meningkatkan waqafnya.

Abdul Wahab asy-Sya’rani, seorang Kutub Spiritual di masanya mengatakan, “Ketika Syaikh Bahauddin an-Naqsyabandi dikuburkan, di makamnya, terbukalah sebuah pintu ke Surga baginya, sehingga makamnya menjadi sebuah Taman Surga. Dua makhluk ruhani (spiritual) yang berpenampilan mempesona datang dan memberi salam kepada beliau sambil berkata, “Kami telah menunggu sekian lama untuk melayani anda, sejak Allah SWT menciptakan kami. Dan sekarang, waktunya telah tiba bagi kami untuk melayani anda.” Maulana Syaikh Bahauddin an-Naqsyabandi menjawab, “Aku tidak akan berpaling kepada selain Allah, karena aku tidak butuh apapun. Yang kubutuhkan hanyalah Dia.”

Syaikh Bahauddin meninggalkan banyak murid dan penerus yang hebat-hebat, yang paling menonjol diantara mereka adalah Syaikh Muhammad bin Muhammad Alauddin al-Khwarazmi al-Bukhari al-Atthar dan Syaikh Muhammad bin Muhammad bin Mahmud al-Hafizi yang dikenal sebagai Muhammad Parsa, penulis kitab Risalah Qudsiyah. Kepada yang pertamalah Syaikh Bahauddin meneruskan ilmunya dan menjadi ahli silsilah ke 16. Dari murid-muridnya dahulu sampai sekarang banyak melahirkan wali-wali besar di Timur maupun di Barat, sehingga ajarannya meluas ke seluruh pelosok dunia. Beliau pulalah yang mengatur pelaksanaan suluk dari 40 hari menjadi 10 hari yang dilaksanakan secara efisien dan efektif dengan disiplin dan adab suluk yang teguh.

Sebagian besar masa hidupnya dihabiskan di Bukhara, Uzbekistan serta daerah di dekatnya, Transoxiana. Ini dilakukan untuk menjaga prinsip “melakukan perjalanan di dalam negeri”, yang merupakan salah satu bentuk “laku”, seperti yang ditulis oleh Omar Ali-Shah dalam bukunya, Ajaran atau Rahasia dari Tarekat Naqsyabandiyah. Perjalanan jauh yang dilakukannya hanya pada waktu beliau menjalankan ibadah haji dua kali.

Ya Allah, curahkan dan limpahkanlah keridhoan atasnya dan anugerahilah kami dengan rahasia-rahasia yang Engkau simpan padanya, Aamiin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *