Tasawuf Nafas Dakwah Guz Nizam

Sebaliknya, jika hati itu rusak, maka rusak pulalah anggota tubuh yang lainya. Sebegitu pentingnya ajaran tasawuf bagi kaum muslimin, hingga perlu disyiarkan dan di dakwah kan secara terus menerus, agar umat islam mempunyai pemahaman yang benar akan ajaran agama islam yang di bawa Rasulullah Muhamad SAW.

Bertolak pada kenyataan inilah KH. Mohamad Nizam As-Shafa, Lc. Pengasuh Ponpes Ahlus shofa wal wafa, Simoketawang, Wonoayu, Sidoarjo tiada henti menyebarkan ajaran tersebut keberbagai daerah. Bahkan dia memberikan pengajian ke sejumlah Negara.

Guz Nizam, Begitu dia panggil. Beliau merupakan guru pembimbing tarekat Naqsabandiyah Khalidiyah. Beliau membuka pengajian tasawuf setiap rabu malam yang diikuti ribuan jamaah putra putri. Kitab yang dikaji adalah kitab Jami’ul Ushul Fil Auliya’ (syaikh Ahmad Dhiya’uddin Musthofa Al-Khamisykhonawy) & Kitab Al-Fathur Rabbani wal Faidlur Rahmany (Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani).

Mengapa memilih jalur tasawuf? Tentang ini, Guz Nizam mengatakan, tasawuf atau sufisme adalah ilmu untuk mengetahui bagaimana mensucikan jiwa. Menjernihkan akhlak, membangun dhahir dan batin serta untuk memperoleh kebahagiaan yang abadi. “Kalau umat islam menjalankan ajaran-ajaran tasawuf, dan ini yang seharusnya di jalankan oleh umat islam, maka kedamaian akan tercipta dimuka bumi. Kedamaian disini, sebuah kedamaian yang berbalut religi,” katanya.

Alasanya, karena, tasawuf adalah bidang kegiatan yang berhubungan dengan pembinaan mental rohaniah agar selalu dekat dengan Allah. Bertasawuf bertujuan memperoleh hubungan secara sadar antara manusia dengan Tuhanya untuk mendekatkan diri kepeda-Nya dengan mengikuti konsep-konsep yang ada di dalam tasawuf.

Hal yang penting, adalah bagaiman kita bisa selalu berupaya untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan menjadikan syariat islam sebagai pedoman untuk mencapai hakikat. “Bagaiman ajaran tasawuf tersebut menjadi titik dimana kita sebagai manusia melaksanakan kehidupanya didunia ini di jalan Allah. Yaitu beribadah, bertingkah laku seperti hal nya umat islam di zaman Nabi dan para sahabat,” kata Guz nizam

Berbicara tasawuf, katanya, sebenarnya benih-benih tasawuf sudah ada sejak dalam  kehidupan Nabi Muhamad SAW. Hal ini dapat dilihat dalam perilaku dan peristiwa dalam hidup, ibadah dan perilaku Nabi Muhamad SAW. Peristiwa dan perilaku hidup Nabi. Sebelum di angkat menjadi Rasul, berhari-hari beliau berkhalawat (Mengasingkan diri) di Gua Hira, terutama pada bulan Ramadhan di sana Nabi banyak berzikir dan bertafakur dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Pengasingan diri Nabi Muhamad di Gua Hira ini merupakan acuan utama para sufi dalam melakukan khalwat. Kemudian puncak kedekatan Nabi Muhamad SAW dengan Allah SWT tercapai ketika melakukan Isra Mi’raj. Didalam Isra Mi’raj itu Nabi Muhamad SAW telah sampai ke Sidratulmuntaha (Tempat akhir yang di capai Nabi ketika mi’raj di langit ke tujuh), bahkan telah sampai kehadirat Ilahi dan sempat berdialog dengan Allah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *