Maqom Mawarid

            Pengajian yang dilaksanakan di Pesantren Ahlus-Shafa Wal-Wafa ini selalu dihadiri ribuan jama’ah dari berbagai daerah di Jawa Timur. Tepat pukul 21.00 WIB, Pengasuh memulai kajian tasawuf Reboan Agung

ا للهم قر بنا ا ليك قر ب المحبين لا قر ب المحتا جين

Artinya: Ya Allah, dekatkanlah aku kepadamu seperti dekatnya seorang pecinta bukan seperti dekatnya kaum peminta.

            Poin yang paling menarik dari kajian tasawuf kali ini adalah capaian yang di harapkan oleh Beliau untuk para jamaah Reboan Agung, dan khusunya para murid yaitu memperoleh kedekatan di hadirat Allah SWT. Kedekatan khusus tersebut sebagaimana dijelaskan oleh Allah SWT dalam Al-Qur’an:

في مقعد صد ق عند مليك مقتد ر

….”berada di Maqom (kedudukan terhormat) yang benar, di hadirat Sang Maha Raja Yang Mempunyai kekuasaan Mutlak (Allah SWT)”

            Yaitu kedekatan yang selalu bersamaNya  (ma’iyah abadiyah) yang tiada pengahalang antara Allah SWT dan abdi kinasihNya (مكا شفة). Menurut pengasuh, seorang hamba yang dapat mencapai maqam tersebut akan dapat menyibak 70 tabir antara hamba dan Tuhannya (Allah SWT). Setiap melakukan rukun dan sunah shalat maka satu persatu tirai penghalang akan tersingkap sehingga disaat tahiyat akhir, benar-benar telah tersingkap 70 takbir itu, yaitu ketika membaca at-tahiyyatul mubarakatus shalawatut tayyibatu lilah, yaitu penghormatan yang hakiki yang syarat keberkahan dan tersucikan dari tabiat rendah duniawi hanyalah pantas untuk Allah SWT.

            Itulah ‘ibrah yang dituangkan oleh Syaikh Ahmad Dhiyauddin Musthafa dalam kitab Jami’ul  Ushul  Fil Auliya’ , tepatnya pada capaian seorang hamba pada kedudukan “sumber mata air kehidupan hakiki” dipintu kewalian. 

و مقا م المو ا ر د في الو لا يا ت تمكينه عليها و تصفيته با لكشف حتى يبلغ مقا م المسا مر ة و المكا شفة

(Kitab Jamiul Usul Fil Auliya, Li Syaikh Ahmad Dhiyauddin, Hal 360 baris ke-8, tentang maqam Mawarid)

            Maqam Mawarid (kondisi rahasia hati seorang hamba) berada pada derajat kewalian (wilayah Allah SWT) dan telah bersih dan bening sirrinya sehingga tak ada lagi penghalang antara  hamba dan Allah SWT, yang di isitilahkan dengan maqam “musamarah dan musyahadah”.

            Kedudukan tersebut tergambarkan seperti sepasang kekasih yang saling berbincang mesra di sunyinya malam tanpa ada yang menggangu dan tiada pengahalang sedikitpun dalam perbincangannya. Itulah maqam musamarah yaitu maqam yang lebih tinggi dari maqam munajat.

            Ibarat seseorang yang nengajukan proposal (permohonan), orang yang berada pada maqam munajat akan meninggalkan orang yang bersangkutan setelah proposalnya disetujui (dikabulkan doanya). Namun lebih dari itu maqam musamarah adalah merapatnya seseorang yang ingin semakin dekat dan lebih dekat lagi dan selalu ingin dekat dan bersama dengan yang didekati, tanpa proposal atau munajat untuk mendapatkan apa-apa.

            Doa yang ditulis diawal tulisan telah di ijazahkan oleh Murabbih Ruuhinaa kepada para jamaah khususnya para murid agar dapat menggapai derajat mulia tersebut. Yaitu maqam yg lebih tinggi dari maqam munajat (peminta) yaitu maqam pencinta (maqam muhibiin atau musamarah).

Itulah maksud terdepam dalam ilmu. Artinya hendaklah seorang salik (orang yg melakukan perjalanan ruhani dalam mendekat kepada Allah SWT) menapaki  perjalanan ruhaninya dengan tata krama sempurna (adap) dengan di bimbing seorang guru yg berpengalaman hingga  akhir mencapai maqam-maqam terpuji di sisi Allah SWT.

Guru akan membimbing Salik agar melakukan tatakrama sempurna dalam segala aktivitasnya baik aktivitas lahir maupun aktivitas batin. Setelah benar-benar mendekat akan cahaya di dalam hati Salik akan semakin terang dan dimudahkan untuk memahami  dan menyikapi fenomena di dalam semesta raya, termasuk di mudahkan dalam mempelajari ilmu-ilmu yang sikapnya lahiriah. itu semua berkat semakin bersinarnya cahaya di dalam hati salik.

Salik yang bersungguh-sungguh menjalankan tatakrama sempurna dibawah bimbingan guru sangat mungkin bisa mencapai derajat sesampai mahkluk  yang tinggi akhlaknya, sebagai manusia paripurna (manusia seutuhnya) dengan tauladan Nabi Muhammad SAW.

Agar mudah memahami maka kosep urutanya adalah sebagai berikut :

  1. Murid harus mempunyai guru ruhani .
  2. Dibimbing dalam bertatakrama sempurna
  3. Memperoleh ilmu  yg berkualitas menurut Allah SWT dn RosulNya, bukan menurut dirinya sendiri
  4. Ilmunya akan membingbingnya mendapat predikat manusia paripurna (insan kamil) disisi Allah SWT.
  5. Ekspresi ketinggian predikat mulia di sisiNya berupa`keluhuran akhalaq dalam berinteraksi dengan sesama makhluk.
  6. Hal itu terjadi ketika Salik telah sampai di maqam mulia disisiNya yaitu maqam Musamarah dan maqam Musyahadah .

Mudah –mudahan Allah memudahkan jalan kita, berawal dari doa yg telah di ijazahkan di atas atau sebagaimana harapan Ayahanda Guru untuk para murid agar bisa menjadi hambah yg terdepan dalam ilmu, terpuji dalam laku .

Oleh: Ustadz Adib

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *